Kata “Pakai” Tetap Penting


“Jangan mau dibohongi pakai Al Maidah 51,” ucap Ahok di hadapan warga Kepulauan Seribu. Perkataan Ahok tersebut tak ayal menjadi viral di Internet. Bola panas pun bergulir. Apalagi kata “pakai” dalam kalimat tersebut sempat hilang di suatu transkrip yang disebarkan. Sebagian (besar) umat Islam merasa ucapan tersebut sebagai bentuk penistaan agama. Ahok telah menuduh Al Qur’an berbohong. Sementara itu, kubu Ahok menyangkalnya dengan menjelaskan adanya kata “pakai”.

Argumentasi kembali dibuat oleh kubu kontra. Mereka mengklaim bahwa ada atau tanpa kata “pakai”, Ahok tetaplah menista agama. Bahkan, muncul meme yang bertuliskan,

Dibacok golok = dibacok pakai golok. Sama saja.

Hal tersebut sangat menarik perhatian saya sebagai pengguna bahasa. Benarkah demikian? Benarkah ada atau tidaknya kata “pakai” dalam suatu kalimat menghasilkan makna yang sama? Lebih jauh lagi, benarkah Ahok menista agama Islam?

“Dibacok golok” bukanlah bentuk (potongan) kalimat efektif. Kata “dibacok” yang berkedudukan sebagai predikat dalam kalimat adalah kata kerja pasif transitif yang membutuhkan objek. Selain objek, kalimat efektif tentu saja membutuhkan subjek. Subjek dalam ragam kalimat seperti ini, walaupun wajib ada, seringkali dilesapkan, baik sengaja maupun tidak. Sebagai catatan, dalam konteks kalimat pasif, subjeknya adalah penderita dan objeknya adalah pelaku.

Mari kita anggap, subjeknya adalah aku. Dengan demikian, bentuk kalimatnya menjadi

Aku dibacok golok.

Siapa yang membacok aku? Golokkah? Tentu saja, bukan. Golok dalam kalimat tersebut hanyalah alat. Objek pelakunya adalah -kita anggap- “orang”. Jadi, kalimatnya akan menjadi efektif jika tertulis

Aku dibacok orang dengan/pakai golok.

Sekali lagi, golok hanyalah “alat” dan kata “dengan” (yang juga bermakna pakai) adalah konjungsi untuk menunjukkan keterangan alat.

Jadi, dengan segala hormat, mengatakan bahwa ada atau tidaknya kata “pakai/dengan” dalam suatu kalimat tidak memengaruhi makna, menurut saya, adalah argumen invalid. Konjungsi dalam bahasa Indonesia mempunyai peran penting. Selain itu, subjek dan predikatnya juga harus diketahui dengan jelas.

Begitu pula pada konteks ucapan Ahok. Diksi yang dia gunakan dalam ucapannya lebih cocok jika disasarkan kepada pelecehan ulama dan umat Islam yang menafsirkan kata “awliya” sebagai “pemimpin”. Kalaupun ucapan Ahok mau disasarkan kepada penistaan agama, saya setuju dengan tulisan jurnalis Republika, Abdullah Sammy di https://goo.gl/gIE9u8

Abdullah Sammy, dalam artikel tersebut, mengambil celah tentang penggunaan ayat Al Qur’an sebagai alat untuk berbohong. Di situlah letak penistaan agama yang dilakukan Ahok. Adapun pernyataan pendukung Ahok bahwa orang-orang semacam Kanjeng Dimas, teroris, dsb yang juga menggunakan Al Qur’an sebagai alat untuk berbohong bisa dibantah dengan satu argumen. Abdullah Sammy menyatakan, “Yang kerap disalahgunakan bukanlah surat, tetapi pemaknaan surat. Sebab, isi surat Al Quran semua sama dan semua dipercaya kebenarannya oleh umat Muslim. Namun, tafsirnya yang memiliki pemaknaan beragam. Teroris jelas memelintir sebuah penafsiran akan ayat. Pun halnya Kanjeng Dimas. Bukan ayatnya yang mereka gunakan, tetapi penafsirannya.”

Jadi, dalam hal ini, Ahok lupa mengatakan kata “tafsir” sebelum menyebutkan surat Al Maidah 51. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa Ahok telah menista agama Islam dengan mengatakan bahwa Al Qur’an yang lurus dan mulia (dalam konteks ini, Al Maidah: 51) adalah alat untuk berbohong. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s