Jerat-Jerat Jaring-Jaring Sosial


Kita hidup di masa ketika arus informasi mengucur deras tanpa kendali, bahkan kita tenggelam dan terhanyut di dalamnya. Untuk mengetahui kabar kawan lama di negeri sana, kita tak perlu repot-repot bertanya, apalagi menemuinya. Kabarnya secara eksklusif nampang di gadget-gadget kita. Bukan cuma kabar baik, kabar putus cintanya pun kita bisa mengetahuinya. Kita tak perlu berlangganan surat kabar untuk mengetahui peristiwa yang terjadi di pelbagai penjuru dunia. Kabarnya secara eksklusif nampang di gadget-gadget kita. Tanpa perlu mengetahui validitas kebenarannya. Kini, batas antara kebenaran dan kesalahan terlihat sirna. Mata manusia tak lagi jelas melihat kebenaran seterang matahari di angkasa. Ya, jaring-jaring (atau jejaring) sosial memang menyuguhkan dimensi baru dalam perikehidupan manusia.

Namanya juga jaring-jaring, selain sifatnya menghubungkan antargaris (seperti rajutan benang), ia juga menjerat. Fungsinya jelas, sebagai perangkap ataupun jebakan. Betapa jenius orang yang mengindonesiakan kata social network menjadi jaring-jaring sosial. Ia pasti berusaha keras membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk menemukan padanannya. Ia juga pasti sudah mengetahui efek social network bagi manusia. Ia pasti tahu bahwa jika seseorang sekali saja masuk ke jaring-jaring sosial, maka ia akan sulit untuk lepas dari jeratannya. Bak terperangkap dalam jaring laba-laba. Lengket. Lepas dari satu benang, masih ada benang-benang lain yang menjerat. Bahkan, kekuatan jaring laba-laba raksasa, Shelob dan induknya (Ungoliant) pun tak ada apa-apanya.

Deskripsi yang berlebihan? Oke, tidak perlu jenius untuk mengetahui bahwa net berarti “jaring”. Namun, yang jelas, penggunaan istilah tersebut sangatlah tepat.

Secara umum, penggunaan jejaring sosial di dasari oleh semangat untuk mengaktualisasi diri –yang menurut pakar psikologi merupakan kebutuhan dasar manusia- dalam motif apapun. Hanya saja, bagi kebanyakan orang, jejaring sosial ini menjadi pengikat. Waktu pun habis di jaring-jaring ini. Pagi, siang, petang, dan malam, dihabiskan untuk meng-update status ataupun sekadar membaca lini masa. Tak sedikit remaja yang kecanduan karenanya. Kecanduan dalam arti yang sebenarnya. Efek yang lebih jauh adalah depresi, dan akhirnya bunuh diri. Namun yang pasti, Facebook, Twitter, Path, dan sebagainya menyebabkan mayoritas KITA lalai dari agama; membaca dan mengkaji Al-Qur’an, misalnya. Salah seorang pemuka tabi’in, Imam al-Hasan al-Bashri -rahimahullâh- berkata,

“Salah satu tanda bahwa Allah mulai berpaling dari seorang hamba adalah tatkala dijadikan dia tersibukkan dalam hal-hal yang tidak penting bagi dirinya.”

Di jaring-jaring ini, virus kegalauan bersimaharajalela. Kegalauan menjadi epidemi yang susah untuk diberantas. Cukup satu atau dua akun sebagai infektan, maka puluhan akun lain pun akan terinfeksi. Tiap akun akan memperoleh downline-nya masing-masing, tertular dan menularkan. Masalah cinta menjadi pemicu utama kegalauan ini. Andai saja Ibnul Qayyim -rahimahullâh- hidup di zaman ini, entah apa yang akan beliau katakan. Obat apa yang akan beliau berikan kepada pemuda-pemudi yang terjerat ‘isyq (gelora asmara). Melepaskan ‘isyq tak lagi semudah tak bertatap muka. Karena di sana selalu ada dinding “buku muka” yang selalu menampakkan wajah dan kabar sosok yang dicinta. Mau pergi, tetapi ada kepentingan lain di dalamnya. Nge-block lini masa, hanya bisa sementara. Tetap saja ada keinginan untuk tahu kabar dia. Tidak ada yang bisa lepas, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah ta’ala.

Buku muka dan kicauan lini masa laksana tembok ratapan Yahudi atau loker penebusan dosa kaum Kristiani. Jejaring sosial berubah fungsi menjadi media untuk berkatarsis ria, yang sayangnya sering melampaui batas. Harapan, keluh dan kesah permasalahan pribadi, kegalauan, bahkan hal-hal katebelece yang notabene adalah aib dan dosa diri pun dengan mudah diumbar di jejaring sosial. Disadari atau tidak, mengumbar hal-hal seperti itu tak ubahnya seperti kita mengumbar permasalahan pribadi di tengah-tengah pasar atau di toa masjid. Sama saja. Semua orang bisa mendengarnya. Lebih dari itu, kalau mau introspeksi, kita malah banyak mengadu masalah di dinding buku muka atau kicauan lini masa alih-alih mengadu kepada Allah ‘azza wajalla, lebih mengutamakan pembaruan status daripada shalat dan dzikir kepada Allah subhanahu wata’ala. Padahal Rasulullah –shallallahu’alaihi wasallam- telah bersabda,

“Siapa yang ditimpa kesusahan lalu mengeluhkannya kepada manusia, maka tidaklah akan ditutupi kesusahannya. Siapa yang mengeluhkannya kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan kecukupan kepadanya. Apakah dengan kematian yang segera atau kecukupan yang cepat.” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud)

Akun pseudonim bermunculan menebar provokasi dan keresahan, mengklaim mengetahui banyak hal. Anehnya kita pun begitu mudah percaya. Yang penting menarik dan aktual, katanya. Tak peduli kebenaran nyata dan siapa yang menulis. Bahkan, kita pun turut ramai menyebarkan dan berkomentar tentang berita yang mereka sebarkan. Bro, bukankah dalam Al-Qur’an ada larangan untuk menerima dan menyebarkan berita dari orang-orang fasik? Tak salah lagi, sekarang inilah zaman yang disebut Nabi –shallallahu’alaihi wasallam- sebagai zaman ketika para ruwaibidhah (orang-orang dungu) angkat bicara. Satu lagi, jangan beranggapan bahwa dengan membuat akun pseudonim dan kemudian mem-posting kedustaan, dosanya akan ke terlimpah secara anonim juga. Tidak! Dosa tetap tanggung jawab pengguna.

Di jaring-jaring ini juga muncul ahli-ahli agama yang luar biasa. Berlagak seperti tukang fatwa, siap berdebat dan ditanya, padahal hal tersebut melebihi kapasitas keilmuannya. Bersembuyi dibalik nama pengguna, bermodalkan fasilitas mesin pencari. Tak pernah sekalipun duduk dihadapan ulama. Amalnya? Itu rahasia. Anggaplah saya sebagai contoh, berlagak menjadi ahli agama di lini masa, siapa yang tahu kalau saya cuma lulusan fakultas sastra? Ah, tak apa. Toh, ilmu agama lebih mudah daripada ilmu-ilmu lainnya. Kita cukup membaca satu atau dua buku untuk menjadi ahli agama. Iya, ahli! Sedangkan untuk menjadi ‘tukang insinyur’ kita harus lebih intens dalam belajar. Butuh ijazah yang diperoleh dari pendidikan yang dikenyam selama beberapa tahun sebelum berani berkoar dan menulis tentang teknologi, iya kan?

“Allah merahmati seseorang yang tahu kadar dirinya.” (‘Umar bin Abdul’Aziz)

Bagi sebagian pengguna, jumlah “kawan” dan “pengikut” menjadi kebanggaan. Inilah penyakit hati yang dikenal dengan istilah hubbu azh-zhuhr atau cinta ketenaran. Padahal, semakin banyak yang membaca apa yang kita tulis, semakin besar pula tanggung jawab kita di Hari Perhitungan nanti. Beruntung jika yang kita tulis adalah kebaikan dan merugi jika yang kita sebarkan adalah kejelekan.

“Safety is that you don’t desire to be known.” (Sufyan Ats-Tsauri)

Kalau saja protokol zionis itu memang benar ada, mungkin jaring-jaring ini bagian darinya. Bagian dari konspirasi Yahudi untuk menyatukan dan membaharukan dunia di bawah pengaruhnya. Sangat tidak menutup kemungkinan jika salah satu fase new world order dibangun di jejaring sosial. Ah, lupakan! Saya juga tak pernah menganggap Yahudi sebagai sosok yang perkasa. Kalaupun mereka memang pandai membuat makar dan tipu daya, saya percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik pembuat tipu daya. Allah akan melindungi agama Islam ini dari musuh-musuh-Nya. Lagi pula, saya juga bukan simpatisan kelompok/partai yang selalu mengaitkan segala permasalahan –yang menyudutkan kelompoknya- sebagai akibat konspirasi Wahyudi. Poor Wahyudi.

“Hei bung, ini hanya dunia maya! Why so serious?” Ah iya, mungkin saya yang terlalu sensitif dan kurang piknik!

Baiklah, jejaring sosial memang sekadar media, ia bagaikan pisau bermata dua. Tergantung bagaimana kita menggunakan jejaring sosial tersebut. Namun pisau tetaplah pisau, kedua matanya tetap tajam. Ia punya aturan dalam penggunaan, tidak bisa sembarangan. Dan Islam adalah sebaik-baik aturan. Jangan! Jangan katakan bahwa di jejaring sosial, aturan dan adab islami tidak perlu untuk dihiraukan. Jangan katakan bahwa hidup di dunia maya berarti terlepas dari syariat. Jangan katakan pula bahwa di lini masa kita bisa berkicau bebas dan terlepas dari dosa. Justru sebaliknya!!

Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang bertakwa.

 Jakarta, 18 September 2014

Sebuah catatan dan nasihat untuk diri sendiri. Ditulis setelah 3 tahun tertungkus di kepala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s