Copycat is More Dangerous than Tomcat!


“Plagiaris adalah seorang pencuri, sekaligus pendusta.” -Sudigdo Sastroasmoro-

29/01/2013, saya googling untuk mencari referensi beberapa hal berkaitan dengan pekerjaan saya. Google –si mbah yang konon tahu banyak hal- pun memberikan daftar rujukan, salah satunya adalah web Lontar UI. Saya membukanya. Selesai membaca apa yang ingin saya tahu, dan karena sudah terlanjur ada di laman Lontar UI, saya iseng untuk mencari beberapa skripsi karya teman-teman saya. Khususnya teman-teman saya yang telah menulis skripsi berkaitan dengan cabang ilmu linguistik.

Gotcha! Saya menemukan satu skripsi milik teman seangkatan saya saat masih kuliah. Kemudian saya langsung mengunduh. Saya buka dan baca halaman demi halaman. Tetiba saya merasakan kegetiran di bibir. Saya mulai merasakan keanehan ketika melihat jenis font yang tidak konsisten di skripsi tersebut. Ada yang menggunakan font Times New Roman, ada juga yang menggunakan font AGaramond (font favorit saya dan kawan karib saya).

Saya lanjut menyibak halaman, hingga saya sampai pada halaman persembahan dan juga halaman ucapan terima kasih (kata pengantar). Saya mengerutkan dahi. Saya merasa tidak asing dengan kalimat dan paragraf-paragraf yang tertera. Yeah, that’s mine! Si ‘penulis’ ini hanya mengganti  nama-nama yang tertera. Saya tidak perlu membuka kembali skripsi saya untuk memastikannya. Saya ingat betul apa yang saya tulis, apalagi di halaman persembahan; ahem, my exclusive page for someone.

Hati saya mulai memanas. Kecurigaan dan prasangka negatif mulai berebut keluar dari pikiran saya. Halaman persembahan dan kata pengantar saja disontek, bagaimana halnya dengan halaman materi/isi?

Saya melanjutkan kegiatan membaca skripsi tersebut. Err, ternyata sangkaan saya benar, ada beberapa subbab yang merupakan hasil pemindahan dari skripsi saya ke skripsi yang sedang saya baca. Beberapa paragraf memang diparafrasekan, sebagian lagi ada yang dipindah tata letak kalimatnya, tetapi hal itu tidak bisa menghilangkan fakta bahwa kalimat-kalimat tersebut adalah ‘milik’ saya (semacam plagiarisme mozaik). Bahkan, halaman terakhir (biografi singkat penulis) pun nyaris sama dengan tulisan saya.

Saya ingat, ingat bahwa dia bukan satu-satunya orang yang meminta softfile skripsi saya, ada beberapa lagi yang lain. Salah saya, memang. Saya begitu mudahnya memberikan softfile skripsi saya kepada beberapa kawan (baik seangkatan ataupun adik angkatan), niatnya sekadar membantu dengan memberikan contoh/acuan. Sampai semester kemarin pun, masih ada adik kelas yang minta salinan skripsi saya.

Oleh karena itu, saya pun mencoba menelusuri nama-nama lain di Lontar UI guna membaca skripsinya. Saya temukan satu. Saya baca. Saya melihat kasus serupa. Saya tidak tahu yang ini lebih parah atau tidak. Poin plusnya, dia menyebut nama saya di sana, dia memang menjadikan skripsi saya sebagai salah satu rujukan, baik di kerangka teori, kutipan, maupun daftar pustaka (memang agak aneh menjadikan skripsi S1 sebagai rujukan). Adapun poin minusnya adalah dia menjadikan skripsi saya seperti sebuah template, dari awal hingga akhir. Konsep materi, sistematika penyajian, hingga halaman ketebelece semisal kata pengantar dan biografi pun benar-benar ia jadikan sebuah template. Saya merasa sedang membaca skripsi saya sendiri, tetapi dengan korpus penelitian yang berbeda. Iya, cuma itu perbedaan besarnya. Bahkan nyaris tidak ada parafrase dari kalimat-kalimat yang saya gunakan. List pustaka acuannya pun seperti sekadar salin tempel dari skripsi saya. Yap, word-for-word plagiarism, bahkan bisa masuk kepada fabrifikasi data. Saya tidak melarang kalau dia mau mengambil ide penelitian yang sama dengan saya (dengan korpus yang berbeda). Namun, apakah penyajiannya harus sama persis?!

***

Rentetan paragraf di atas memang terkesan hanya curahan hati saya. Saya memang memendam kekesalan. Namun bukan itu poin saya. Terlepas dari tulisan saya yang dibajak tersebut, saya –yang sekarang bekerja sebagai editor buku- pun sering mendapatkan naskah-naskah sampah yang isinya berupa hasil jiplakan dan salin tempel dari karya orang, bahkan salin tempel dari tulisan yang tersebar gratis di internet. Lucunya lagi, mayoritas penulisnya adalah orang-orang yang mengaku menyandang gelar sarjana. Banyak naskah yang masuk ke meja saya tak ubahnya tugas paper mahasiswa yang dikerjakan satu malam, hasil copy paste dari artikel-artikel di internet. Mereka seperti hendak mengatakan bahwa kami itu ‘bodoh’, hanya mereka yang tahu cara-cara licik seperti itu. Mereka tidak sadar bahwa jika mereka bisa menjiplak tulisan hasil browsing di internet, kami pun bisa melakukan metode sama untuk mengeceknya.

Lebih dari itu, saya menyangsikan kehidupan akademis mereka. Bukankah sebagai akademikus seharusnya mereka tahu etika dan moral akademis? Apalagi hal tersebut berkaitan dengan skripsi. Salah satu tujuan terpenting pembuatan skripsi bukanlah memaksa para mahasiswa S1 untuk menemukan teori atau penemuan-penemuan baru. Lupakan anggapan muluk itu. Tahapan mahasiswa S1 hanyalah belajar dan mengenal kaidah ilmiah. Skripsi adalah media untuk menerapkan kaidah-kaidah ilmiah tersebut. Menerapakan metode dan sistematika penelitian dan penulisan dengan benar dan baik, sesuai dengan etika ilmiah. Itulah tujuannya.

Jika dari sisi itu saja mereka telah gagal memahami –bahkan khianat, tercebur pada tindak plagiarisme-, apakah gelar kesarjanaan mereka masih bisa dibanggakan? Apalagi jika sang plagiarist adalah seorang muslim, harusnya ia tahu betapa kaidah-kaidah semacam itu sangat dijaga oleh Islam. Islam sangat memuliakan ilmu riwayat dan sanad.

Plagiarisme lain yang lazim ditemukan adalah berkaitan dengan artikel-artikel yang tersebar di internet. Copycat mudah sekali ditemukan di dunia maya tersebut. Mencomot artikel seseorang, kemudian dicantumkan di weblog peribadinya tanpa mencantumkan sumber. Ada yang mengakui bahwa tulisan hasil comotan tersebut merupakan karya asli miliknya. Ada juga yang tidak, membiarkan artikel tersebut kosong tanpa nama penulis (dan juga tanpa sumber). Hakikatnya sama saja, mereka cuma tidak (belum?) berani mengakui secara tersurat. Copycat tetaplah copycat, penjiplak karya orang!

Terakhir, membicarakan plagiarisme tidaklah indentik dengan pelanggaran hak cipta. Pelanggaran hak cipta (copyright), maknanya lebih kepada penggunaan karya-karya orang lain yang telah diakui secara hukum. Adapun makna plagiarisme lebih luas daripada itu, tidak mesti berkaitan dengan karya-karya yang sudah ada diakui secara legal. (Definisi dan cakupan-cakupan plagiarisme secara lengkap bisa dibaca di sini). Jadi, jangan mentang-mentang tulisan tidak diterbitkan atau tidak diakui hukum, lalu kita dengan bebas bisa menjiplaknya. Hargai karya orang! STOP BEING COPYCAT!

3 pemikiran pada “Copycat is More Dangerous than Tomcat!

  1. Itu adalah satu contoh saat memandang lulus kuliah sebagai tujuan akhir dan bukan mengambil manfaat dari menempa diri dalam proses menuntut ilmunya sendiri. Hingga sekarang kebanyakan orang masih memandang tujuan utama dari kuliah adalah mendapat gelar dan kemudian mencari kerja dengan ijasah kertasnya itu. Padahal menuntut ilmu tidaklah sedangkal itu. Miris juga melihat begitu jamaknya tingkat plagiarisme seperti itu. Padahal jelas-jelas itu adalah bentuk pencurian yang nyata. Pencurian baik besar dan kecil adalah jelas perbuatan yang tercela. Mirisnya itu dilakukan oleh seorang akademisi dan orang yang seharusnya memberikan teladan kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s