Gonggongan Anjing Tak Membahayakan Awan: Catatan Ringkas tentang Metro Tv dan Media Massa Lainnya


Malam ini (14 September 2012) lini masa twitter saya dibanjiri dengan hujatan-hujatan terhadap Metro Tv tentang pemberitaannya berkaitan dengan isu terorisme. Sepertinya, Metro Tv mengeluarkan pernyataan yang memojokkan Islam, khususnya media dakwah Rohis[1]. Kata ‘sepertinya’ sengaja saya gunakan karena saya sendiri hanya mengetahui berita tersebut melalui akun-akun yang saya ikuti. Saya tidak membaca/mendengar/melihat secara langsung apa yang dikemukakan oleh Metro Tv, baik di tv, situs berita, ataupun akun twitter resmi Metro Tv itu sendiri[2].

Jika saya tidak tahu sesuatu yang terjadi, kenapa saya begitu lancang menulis catatan ini? Sesuatu yang terjadi sekarang ini bukanlah yang pertama dan mungkin bukan yang terakhir (walaupun saya tidak berharap seperti itu). Lagi pula bukan isu tersebut yang ingin saya bahas, melainkan sikap kita dalam menanggapinya. Namun sebelum itu, saya akan menceritakan suatu hal:

Sekitar akhir November tahun lalu, terjadi penyerangan orang-orang syi’ah hutsi al-anjâs terhadap ma’had Dârul Hadîts milik muslim ahlussunnah di Dammaj, Yaman. Beberapa santri ma’had meregang nyawa akibat serangan tersebut (rahimahumullâh), dua di antaranya merupakan santri asal Indonesia.

Saat peristiwa itu terjadi, media massa belum mengendusnya apalagi memberitakannya. Lain halnya dengan ikhwah salafiyyin ahlussunnah di Indonesia, yang memang sebagian dari mereka mempunyai akses khusus untuk mendengar kabar tersebut. Berita itu pun tersebar dengan cepat, ramai-ramai mereka mem-posting-nya di internet, tak terkecuali saya. Harapan saya (bukan kami. Saya tidak tahu apakah harapan saya mewakili banyak orang) saat itu adalah agar pemerintah Indonesia dan kaum muslimin secara umum mau memberi pertolongan kepada ahlussunnah di sana, minimalnya dengan doa. Saya juga beharap agar kaum muslimin tahu betapa busuknya makar kaum syi’ah dan tahu posisi para penuntut ilmu di sana; murni sebagai penuntut ilmu. Tentu saja, jalur cepat dari harapan tersebut adalah peristiwa itu segera diberitakan oleh media massa.

Namun harapan tinggal harapan. Saya tak ubahnya sosok naif yang tidak pernah belajar dari masa lalu (tentang media massa). Alih-alih memberitakan tentang apa yang saya harapkan, media massa (saat itu yang paling saya ingat adalah Metro Tv) malah memojokkan posisi para ahlussunnah di sana. Pelajar Indonesia yang keberadaannya di sana murni hanya untuk menuntut ilmu agama malah dituduh belajar memegang senjata dan aksi terorisme lainnya. Metro Tv saat itu lebih memilih untuk mewancarai orang-orang yang sok tahu padahal tidak tahu, daripada mewawancarai Dubes RI di Yaman yang tahu persis apa yang dilakukan santri-santri Indonesia di sana[3].

Saya marah, walaupun kemarahan tersebut hanya bisa saya pendam sendiri atau saya ungkapkan melalui cercaan-cercaan kecil di jejaring sosial. Bahkan bisa dikatakan peristiwa itu merupakan puncak kemarahan saya terhadap media massa (dan awal saya untuk tidak pernah lagi percaya pada mereka. Tidak ada yang saya dengar dan baca dari mereka kecuali sedikit, pun berita olah raga). Lebih dari itu, saya marah kepada diri saya kenapa bisa begitu banyak berharap pada mereka.

Sampai beberapa hari kemudian, seorang ikhwan yang sedang menimba ilmu di Yaman (tetapi bukan di Dammaj) berkata kepada kami (yang maknanya lebih kurang),

“Ikhwah, berhentilah berharap kepada manusia, gantungkan harapan kalian hanya kepada Allah. Daripada kalian habiskan umur kalian untuk mengutuk, jauh lebih baik jika digunakan untuk mempelari agama. Sibukkan diri-diri kalian dengan belajar ilmu agama. Pelajari Islam yang benar, kemudian ajarkan kepada kerabat dan teman-teman kalian. Ucapan-ucapan keji mereka (media massa dan selainnya, pen) tidak akan pernah merendahkan kemuliaan agama-Nya.”

Ya, gonggongan anjing tak membahayakan awan!

نُبَاحُ الكِلاَبِ لاَ يَضُرُّ السَحَابَ

Simpulannya, lebih baik kita sibukkan diri kita untuk mempelajari agama ini[4]. Kemudian kita amalkan, ajarkan, dan bersabar di atasnya. Apa yang mereka sampaikan, biarlah menjadi pertanggungjawaban mereka di hadapan Allâh ‘azza wajalla.

Hâtû burhânakum in kuntum shâdiqîn.
Wallâhu ta’âla a’lam.

Jakarta, 14 September 2012
Ahmad Fa’iq


[1] Sebagaimana yang saya jelaskan dalam artikel ini, saya tidak mengetahui hal yang dikemukakan oleh Metro Tv secara terperinci. Inti dari artikel yang saya tulis ini adalah tentang sikap kita dalam menghadapi perkataan-perkataan yang memojokkan Islam, khususnya yang tersebar di media massa. Saya tidak membahas rohis secara khusus. Bagi saya, rohis sekedar media dakwah di sekolah atau kampus. Ideologi ataupun prinsip yang dianut rohis, tergantung anggota-anggota dan juga pembimbingnya. Saya tidak menutup mata terhadap fakta bahwa banyak (sebagian besar?) rohis disusupi oleh pemahaman-pemahaman hizbiyah dan quthbiyah yang merupakan akar terorisme modern. Namun, saya juga tidak bisa menampikkan fakta lain bahwa ada juga rohis yang tidak seperti itu.

[2] Satu yang saya baca, Metro Tv mengatakan bahwa salah satu ciri teroris adalah menghujat pemerintah. Khusus untuk pernyataan tersebut saya setuju (pernyataaan lain saya tidak tahu dan tidak mau tahu). Namun, apakah Metro Tv lupa apa yang mereka lakukan selama ini? Are you terrorist, Metro Tv?

[4] Pembahasan tentang kesesatan terorisme secara khusus, bisa dibaca di laman http://jihadbukankenistaan.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s