Cinta pada Pandangan Pertama


Dari dulu saya tak pernah percaya pada makna sebuah frase cinta pada pandangan pertama. Bagi saya, cinta adalah sebuah rasa istimewa yang tidak akan lahir begitu saja. Mencintai tak secepat membuat mie instan. Mencintai juga tak secepat layanan delievery PHD yang katanya cuma 30 menit. Mencintai membutuhkan waktu dan proses yang agak lama. Ya, cinta butuh proses.

Mungkin ada di antara kalian yang bertanya, tahu apa kau tentang cinta? Saya akui bahwa saya memang tak banyak tahu soal cinta. Buktinya, kesimpulan saya tentang proses cinta yang saya paparkan di paragraf awal -dengan lapang dada- harus saya koreksi sendiri. Saya membuktikan sendiri bahwa cinta pada pandangan pertama itu benar adanya, nyata.


Sebelum saya ceritakan lebih jauh tentang pengalaman cinta pada pandangan pertama yang saya alami, saya ingin menekankan bahwa makna cinta tak sesempit hubungan pria dan wanita. Definisi cinta tak melulu tentang nafsu dan syahwat. Cinta sangatlah luas. Kata cinta bisa saja kita nisbatkan kepada Allah, Rasul-Nya, agama-Nya, orang tua, kakak, adik, dan juga teman dekat. Objek cinta yang terakhir itulah yang akan saya bahas; cinta kepada seorang teman. Pada kasus ini dia berkelamin laki-laki, sama seperti saya. Masalah? Tidak sama sekali. Perhatikan hadits ini,

أن رجلا كان عند النبي صلى الله عليه وسلم فمر به رجل، فقال: يا رسول الله إني


لأحب هذا. فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: أعلمته؟ قال: لا. قال: أعلمه


قال: فلحقه فقال: إني أحبك في الله. فقال: أحبَّك الذي أحببتني فيه


Ada seorang sahabat yang berdiri di samping Rasulullah –shallallahu alaihi wasallam-, lalu seorang sahabat lain lewat di hadapan keduanya. Orang yang berada di samping Rasulullah itu tiba-tiba berkata, “wahai Rasulullah, aku mencintai dia”. “Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?”, tanya Rasulullah. “Belum”, jawab orang itu. Rasulullah berkata, “kabarkanlah kepadanya!”. Kemudian orang itu segera berkata kepada sahabatnya, “sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah”. Dengan serta merta orang itu menjawab, “semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya”. (HR. Abu Dawud)

Jadi, jangan picik mengartikan kata cinta. Percayalah, saya masih normal, saya masih tertarik dengan wanita. Bahkan, wanita yang saya cintai mungkin sedang membaca artikel ini. :p

Cinta pada pandangan pertama saya terjadi sekitar 4 tahun yang lalu. Di sebuah kota kecil yang bersebelahan dengan Jogja, Bantul, pada bulan Juli tahun 2008. Saat itu saya sedang mengikuti Daurah Nasional di Masjid Agung Bantul. Ribuan pesertanya. Saya duduk di depan, berharap bisa lebih fokus dalam mengambil ilmu yang akan disampaikan oleh pembicara (lebih tepatnya, biar gak ngantuk). Sang pembicara pun datang, seorang syaikh –entah dari Saudi/Yaman/Kuwait, saya lupa. Dia dikawal oleh beberapa orang laki-laki bergamis putih. Saat itu saya menyebut mereka sebagai elite forces karena mereka selalu duduk di depan dan mengikuti pembicara saat datang atau pergi (istilah elite forces ini cuma candaan di benak saya, mereka bukan anggota militer, apalagi teroris. Belakangan diketahui kalau mereka adalah santri-santri salah satu ma’had di kota Solo). Lelaki itu ada di antara elite forces berjubah putih. Ada banyak lelaki/ikhwah berjubah putih di masjid tersebut, tetapi hanya satu yang menarik perhatian saya. Perawakannya sedang, lebih pendek sedikit dari saya dan lebih gemuk sedikit dari saya. Namun dia tetap terlihat elegan dengan gamis dan peci putihnya, sama sekali tidak terlihat kedodoran. Mukanya putih, bersih, dan bersinar. Jangan pernah menebak bahwa sinar di wajahnya karena produk kecantikan, bukan. Namun –kalau boleh saya mengira- itu adalah sinar atau cahaya ilmu (agama) dan ke-tawadhu’-an yang dimilikinya. Wallahu hasbiih.

Empat hari daurah dilangsungkan, empat hari pula saya memperhatikannya. Setelah daurah selesai, saya pun kembali ke Depok tanpa pernah memikirkan akan kembali bertemu dengannya.

***

Desember 2008.
Saya kembali ke Jawa Tengah, kali ini saya menuju ke kota Solo untuk mengikuti semacam pesantren kilat selama 3 hari. Di sana, saya kembali melihatnya. Sang anggota elite forces bergamis putih itu duduk di depan, mencermati dan mencatat setiap ilmu yang di sampaikan ustadz. Sampai akhirnya saya tahu bahwa dia pernah menjadi santri di ma’had yang saya singgahi ini, Ma’had Ibn Taimiyah Solo. Lulus sekitar 6 bulan yang lalu.

Cahaya di wajahnya masih ada, saya masih mengaguminya sekaligus masih belum berani untuk menyapanya.

***

Januari 2009.
Setelah menikmati liburan semester di kampung halaman (Pekalongan), saya kembali ke Depok untuk menjalani rutinitas sebagai mahasiswa malas, seperti kebanyakan mahasiswa lainnya. :p

Seperti biasa, di sela-sela aktivitas kemalasan kuliah, saya selalu menyempatkan diri untuk mengikuti kajian rutin di masjid Fatahillah Depok (kata selalu digunakan hanya untuk mempermanis paragraf ini, sejatinya saya jarang mengikuti kajian tersebut😀 ). Suatu hari, tak dinyana, sosok ikhwah yang saya kagumi duduk di sebelah saya. Di Masjid Fatahillah Depok. Depok, kandang saya. Maasya Allahu kaana, segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi.

Selesai kajian, saya pun meyapanya dengan mengucapkan salam. Kemudian, tanpa ba-bi-bu saya bertanya kepadanya untuk memastikan bahwa saya tidak salah lihat, “antum ikhwah dari Solo kan?” “Iya”, jawabnya. “Antum dari Solo kan?”, saya masih tak percaya. “Iya, ana dari Solo, antum gak salah lihat.” Kemudian kami berbincang sebentar.

Dari percakapan kami tersebut saya mengetahui beberapa hal (selain namanya yang tidak ingin saya sebut di sini): 1. Dia benar-benar ikhwah anggota elit forces bergamis putih yang saya lihat di Jogja dan Solo. 2. Dia juga sadar kalau pernah melihat saya sebelumnya, dan 3. Dia akan menetap di Depok untuk menuntut ilmu di sini (menjadi santri di Ma’had Fatahillah Depok). Inilah yang disebut takdir, kawan!

Di Ma’had Depok, dia pun menjadi santri terbaik. Bahkan di saat santri-santri lain keluar karena alasan tidak betah, dia tetap bertahan dengan alasan ingin menyelesaikan pelajaran, tak mau berhenti di tengah jalan.  Subhanallah. Sudahkah kalian memahami alasan saya mengaguminya?

***

Januari 2010.
Liburan semester yang ditunggu jutaan mahasiswa pun tiba. Kali ini saya meminta izin kepada Ibu untuk tidak pulang guna mengikuti program pesantren kilat selama satu bulan di Ma’had Fatahillah Depok. Perlu untuk di ketahui, program pesantren reguler di Ma’had Fatahillah Depok telah selesai. Kurikulumnya memang hanya untuk satu tahun. Semua santri telah pulang, kecuali satu. Ya, kalian bisa menebak siapa santri tersebut.

Saya pun berkemas untuk mengikuti pesantren kilat tersebut, saya akan menetap di sakan (asrama santri) selama satu bulan. Karena saya datang terlambat, maka saya memperoleh kamar dan kasur sisa. Did you know, brother? I occupy the same room with him. Satu kamar dihuni tiga orang; saya, dia, dan satu santri lagi yang berasal dari Palembang. Mulai saat itulah kami mulai akrab. Ternyata dia hanya lebih tua beberapa hari dari saya. Dia lahir pada pertengahan Desember 1988, sedangkan saya lahir pada pertengahan Januari 1989.

Akhlak dan keilmuannya? Jangan kalian tanya. Maasyaa Allah, laa quwwata illaa billah. Allahumma baarik ‘alaih.

Setelah pesantren kilat, saya dan dia semakin akrab. Apalagi setelah dia menjadi mahasiswa LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab). Satu seorang mahasiswa Sastra Arab UI dan satunya seorang mahasiswa takmili bahasa Arab LIPIA. Bidang studi yang nyaris sama, tetapi tingkat keilmuan yang sangat berbeda. Kemampuan berbahasa Arab dia jauh di atas saya. Saya sering menimba ilmu padanya. Satu-satunya kelebihan saya adalah saya memiliki komputer yang compatible with Arabic font, lengkap dengan printernya. Jadi dia sesekali numpang ngetik dan nge-print di komputer saya. Selebihnya, saya hanyalah benalu. Bahkan, saat wisuda, saya meminjam sepatu miliknya. Ironis, mahasiswa UI meminjam sepatu santri pondok, hehe. Saat saya kuliah, saya memang dikenal sebagai mahasiswa yang ndak pernah pakai sepatu.

Saya lulus kuliah, dia pun begitu. Setelah itu jalan kami semakin jauh berbeda. Saya terus bergelut dengan perkara dunia, sedangkan ia terus menuntut ilmu agama. Kini ia melanjutkan studi di negeri para ulama, Yaman. Duduk di majelis ilmu, sama seperti pertama kali saya melihatnya.

Sungguh, suatu saat, jikalau dia telah menyelesaikan masa studinya dan kembali pulang ke Indonesia, saya ingin duduk di depannya. Mengambil faidah ilmu dari salah satu kawan terbaik saya. Sekarang, saya selalu berdoa, semoga Allah menjaganya.

Masyaa Allah, tidak ada kekuatan melainkan hanya pertolongan Allah. Ya Allah, berikanlah keberkahan padanya. Sesungguhnya saya mencintainya karena-Mu.

Jakarta, 18 April 2012
Ditulis dengan harapan“tidak mematahkan punggung saudara”

——————–

Catatan: tulisan di atas hanyalah contoh cinta pada pandangan pertama yang saya alami, adapun cinta yang tumbuh melalui proses jumlahnya cukup banyak. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada saya sahabat-sahabat yang baik. Uhibbukum fillah, ya ikhwah!

2 pemikiran pada “Cinta pada Pandangan Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s