Negeri Para Komentator


لو سكت الجاهل ما انتشر الجهل

“Seandainya orang-orang yang bodoh itu diam, niscaya kebodohan tidak akan tersebar”

Ada komentar menarik yang saya baca hari ini (31/3) di blog anakui.com. Komentar yang cukup mengena, terutama bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran di setiap keadaan.😀

Salah satu mahasiswa UI (jurusan ‘tertentu’) menulis opininya berkaitan dengan kenaikan BBM. Dia membandingkan harga BBM di Indonesia dengan harga BBM di luar negeri, salah satunya Amerika. Konklusinya –menurut dia- harga BBM di Indonesia sangatlah mahal. Forget it, bukan itu yang menarik perhatian saya, tetapi salah satu komentar di artikel tersebut yang ditulis oleh mahasiswa FE UI.

“ada alesan kenapa kami anak2 FEUI ga pernah berkomentar tentang metode penyembuhan kanker pankreas. Kami bisa aja ngomongin soal kanker pankreas, bikin artikel di anakui.com tapi jadinya ya kaya artikel ini, ngaco to the max… Karena itu spesialisasinya anak kedokteran, kami cuma taunya kanker pankreas itu penyakit berbahaya yang harus disembuhkan, tapi ga tau caranya.”

Yap, salah satu yang membuat Negara ini kacau adalah terlalu banyak manusia-manusia yang berbicara di bidang yang bukan spesialisasinya (atau memang spesialisasi mereka adalah berbicara di bidang yang bukan spesialisasinya?). Saya tunjukkan satu contoh. Mahasiswa UI pasti mengenal salah satu dosen paska sarjana FISIP yang wajahnya sering nampang di televisi. Dengan aksen cadelnya, dia selalu menjadi komentator (ya, komentator adalah istilah yang tepat) di setiap perkara-perkara politik yang terjadi di negeri ini. Tapi tunggu, dia juga muncul sebagai komentator di bidang sosial, ekonomi, dan… sepak bola. Hal terakhir yang membuat saya kaget, bagaimana bisa, dengan latar belakangnya, dia muncul sebagai pengamat (komentator) sepak bola, dia muncul serta merta menjadi orang yang paling sering diminta pendapatnya saat kisruh PSSI lalu.

Well, berkaitan dengan sepak bola, saya rasa term ‘komentator sepak bola’ adalah analogi yang paling tepat untuk menjelaskan inti dari tulisan saya. Kita cermati, berapa banyak komentator sepak bola yang pandai (atau bahkan, bisa) bermain sepak bola dengan baik? Mudah untuk menjadi komentator sepak bola. Mudah untuk berkomentar bahwa pemain kelas dunia, semacam Fernando Torres, bermain sangat buruk. Namun, apakah kita bisa memastikan bahwa kita bisa bermain lebih baik dari pada Torres?

Saya akan tunjukkan bukti bahwa memberi komentar lebih mudah daripada bertindak. Paska reformasi 1998, ada sosok yang tidak bisa saya lupakan kinerjanya sebagai komentator masalah kenegaraan di televisi. Sangat idealis. Tak ada satu pun peristiwa politik, ekonomi, atau pejabat pemerintah pusat yang luput dari kritikannya. Orang Makasar dengan ciri khas kumisnya yang tebal ini seakan-akan pakar masalah kenegaraan yang paling mumpuni di Indonesia. Pertengahan era 2000-an, dia masuk salah satu partai dan sekarang dia menjabat sebagai menteri. Bukan, bukan menteri polhukam, perekonomian, atau jabatan menteri strategis lainnya, tetapi dia menjabat sebagai menteri ****** *** **** ****. Dan kita semua tahu bagaimana kinerjanya.

Apakah dia kehilangan kepandaiannya atau kehilangan idealismenya? Entahlah, saya tidak tahu. Saya hanya ingat perkataan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-. Beliau mengabarkan tentang huru-hara yang akan terjadi di akhir zaman dan penyebab-penyebabnya. Rasulullah –shallallhu ‘alaihi wasallam– bersabda,

“Akan datang tahun-tahun yang menipu, orang yang dusta dianggap jujur, orang yang jujur dianggap dusta, orang yang khianat dianggap amanah dan orang yang amanah dianggap khianat dan pada tahun-tahun itu Ruwaibidhah pun berbicara,” Beliau ditanya, “Apa Ruwaibidhah itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang berbicara dalam urusan yang besar.” (HR. Ibnu Majah dan yang lain, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’, no. 3650, lihat pula Ash-Shahihah no. 1887)

Okay, cukup sampai di sini tulisan saya. Jangan sampai tulisan saya ini menjadi ironi; tulisan yang hanya berisi komentar-komentar kosong tanpa makna😀
Nasalullahassalamah wal’afiyah.

Jakarta, 31 Maret 2012

Ahmad Fa’iq

*tetiba, beberapa menit setelah tulisan ini di-publish, saya merasa bahwa artikel ini lebih cocok diberi judul ‘Komentar untuk Para Komentator’. Yea, its like that!  Haters Gonna Hate! B)

2 pemikiran pada “Negeri Para Komentator

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s