Makna Ucapan “Bekerjalah untuk Duniamu…”


Seperti biasa, sejak saya tinggal di bilangan Jakarta Barat, saya selalu menunaikan Shalat Jumat di Masjid Komplek Perumahan BULOG. Walhamdulillah, hari ini -28 Oktober 2011- saya mendapat faedah ilmu dari sang khatib. Di tengah khutbah (di tengah? Ya, saya akui saya terlambat ke masjid, tapi dengan udzur syar’i, insyaAllah; hujan deras) beliau menjelaskan tentang perkataan Ibnu ‘Amr –radhiallahu ‘anhumaa– (bukan hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-):

اعمل لدنياك كأنك تعيش أبدا ، و اعمل لآخرتك كأنك تموت غدا

“Bekerjalah untuk duniamu, seakan kamu hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu mati besok.”

Khatib mengatakan bahwa yang diinginkan dari perkataan tersebut bukanlah meningkatkan perhatian manusia kepada dunia dan akhirat secara seimbang, tetapi harus lebih memperhatikan kepentingan akhirat.

Perkataan khatib tersebut membuat saya ingin mencari referensi tentang tafsir yang dikemukakan oleh para ulama berkaitan dengan ucapan tersebut. Maka, walhamdulillah, inilah penjelasan dari asy-Syaikh Ibn ‘Utsaimin –rahimahullah– yang saya temukan di laman web resminya.

هذا القول المشهور لا يصح عن النبي صلي الله عليه وسلم فهو من الأحاديث


الموضوعة، ثم إن معناه ليس هو المتبادر إلى أذهان كثير من الناس من العناية بأمور


الدنيا والتهاون بأمور الآخرة، بل معناه على العكس وهو: المبادرة والمسارعة في إنجاز


أعمال الآخرة والتباطؤ في إنجاز أمور الدنيا؛ لأن قوله اعمل لدنياك كأنك تعيش


أبدًا يعني أن الشيء الذي لا ينقضي اليوم ينقضي غدًا والذي لا ينقضي غدًا


ينقضي بعد غدٍ، فاعمل بتمهل وعدم تسرع، لو فات اليوم فما يفوت اليوم يأتي


.غدًا، وهكذا


أما الآخرة؛ فاعمل لآخرتك كأنك تموت غدًا، أي: بادر بالعمل ولا تتهاون، وقدِّر


كأنك تموت غدًا؛ بل أقول: قدِّر كأنك تموت قبل غد؛ لأن الإنسان لا يدري متى


،يأتيه الموت، وقد قال ابن عمر-رضي الله عنهما-: ”إذا أصبحت فلا تنتظر المساء


،“وإذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك


.هذا هو معنى هذا القول المشهور


[1]

Ucapan terkenal ini bukan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-, bahkan tergolong hadist palsu[2]. Adapun maknanya bukan menggiring opini manusia untuk fokus terhadap urusan dunia dan menyepelekan akhirat. Namun sebaliknya, maknanya adalah mengajak untuk menyegerakan amalan akhirat serta menunda pekerjaan dunia. Karena perkataan, “bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya” bermakna bahwa sesuatu (urusan dunia) yang tidak dapat dikerjakan hari ini dapat dikerjakan besok dan yang tidak bisa dikerjakan besok bisa dikerjakan lusa. Maka bekerjalah pelan-pelan dan jangan tergesa-gesa. Andaikan hari ini terlewat, maka masih ada hari esok yang datang.

Adapun tentang akhirat, “bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati besok”, maknanya adalah segeralah beramal, jangan sepelekan, seakan kamu akan mati besok. Bahkan saya (Asy-syaikh Ibn ‘Utsaimin –rahimahullah-) katakan, seakan kamu akan mati sebelum besok. Karena manusia tidak mengetahui kapan datangnya kematian. Ibnu ‘Umar –radhiallahu ‘anhumaa– berkata, “jika pagi telah datang, maka janganlah menunggu sore. Jika sore telah datang, maka janganlah menunggu pagi. Pergunakan saat sehatmu sebelum kamu sakit, dan pergunakan masa hidupmu sebelum kamu mati”. Demikianlah makna ucapan terkenal tersebut.[3]

Wallahu ta’ala a’lam.

Sekedar berbagi faedah, semoga bermanfaat!


[2] Asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani –rahimahullah– mengemukakan bahwa beliau menemukan sanad perkataan ini secara mauquf kepada ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash dengan lafadz

احرث لدنياك كأنك تعيش أبدا ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا

“tanamlah untuk duniamu seakan-akan kamu akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok”. http://www.alalbany.net/books_view.php?id=13213&search=&book=zelaljana

[3] Mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam penerjemahan

2 pemikiran pada “Makna Ucapan “Bekerjalah untuk Duniamu…”

  1. Wah, parah banget. Afwan akhi. Ente terlalu taqlid hanya pada satu pendapat. Jangan karena semata-mata sudah fanatik dengan satu pendapat ulama, Anda langsung menyepelekan dan menegasikan pendapat ulama yang lain. Ulama yang lain ada yang mengatakan bahwa ini adalah hadits yang diriwayatkan Ibnu Asakir dan mereka pun punya hujjah.

    Syaikh Albani, seperti kita tahu, kerap kali memang berbeda pendapat dalam banyak masalah dengan ulama-ulama yang lain. Jadi Anda tidak perlu terlalu dengan penuh kebencian risau dan kemudian menuding macam2 terhadap orang yang menyakini hadiits ini. Perkataan ini adalah motifasi yang sangat bagus sekali.

    Yang membuat orang Islam mundur adalah taqlid yang berlebihan terhadap sosok, sehingga tidak ada transformasi dalam dirinya karena sejak awal orang macam ini sudah menganggap orang lain sesat karena melawan pendapat ulama mainstream di luar ulama dari golongan mereka. Biasanya ini menimpa orang Salafi pemula yang belum banyak ilmunya. Syukron.

    1. Bismillah.
      Maaf baru balas komen ini. Sebenarnya saya gak tau harus membalas apa. Anda terlalu banyak berasumsi, bahkan -meminjam istilah Anda- terlalu menuding macam-macam. Apakah Anda benar-benar membaca artikel yang saya posting ini? Inti artikel ini adalah nukilan dari fatwa asy-Syaikh Ibn ‘Utsaimin -rahimahullah- tentang TAFSIR/MAKNA ucapan masyhur tersebut (syaikh ‘Utsaimin jg meyakini itu bukanlah hadist, sama seperti syaikh al-Albani yang saya nukilkan ucapannya di footnote). Dan bukan opini saya pribadi yang miskin ilmu ini.
      Adapun tuduhan-tuduhan Anda yang lain tidak perlu saya klarifikasi, pernyataan-pernyataan Anda terlalu melebar dan bias. Dengan membaca komentar Anda, sudah terlihat siapa yang taqlid. Wallahu hasbiih.

      Perkataan ini adalah motifasi yang sangat bagus sekali.

      Apa yg Anda permasalahkan dengan postingan saya? Ini benar-benar membuktikan Anda tidak membaca artikel saya. Kalau yang Anda butuhkan adalah penggunaan qaul tsb motivasi ya silahkan, siapa yang melarang? Apakah pernyataan syaikh al-Albani ini tidak bisa Anda pahami?

      Asy-Syaikh Nashiruddin al-Albani –rahimahullah- mengemukakan bahwa beliau menemukan sanad perkataan ini secara mauquf kepada ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash dengan lafazh
      احرث لدنياك كأنك تعيش أبدا ، واعمل لآخرتك كأنك تموت غدا

      Pernyataan itu tidak meniadakan makna yang Anda ingin jadikan sebg kalimat motivasi kan? Syaikh al-Albani mengatakan bahwa kalimat tsb merupakan atsar dari sahabat Rasulullah, Ibn ‘Amr. (dan jgn sampai kita malah terjebak dalam perbuatan berdusta atas nama Nabi).
      Akhi, sekali mohon baca artikel saya, dan tangkap dan pahami intinya (yaitu tafsir dan makna atsar tersebut). Saya juga sudah memberikan direct link dari rujukan saya, silahkan jika Anda berkenan membacanya.
      Wallahu a’lam. al’Afwu minkum wabarakallahu fiikum.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s