Hermeneutika?


Hari ini, ketika melakukan aktivitas blogwalking, secara tidak sengaja saya disuguhi sebuah artikel yang cukup menggelitik memori saya, memori saat masih mengenyam dunia perkuliahan. Yaitu mata kuliah filsafat (saya bertobat dan berlindung kepada Allah dari hal-hal seperti ini), tepatnya mengenai metode hermeneutika (sebuah metode yang sudah dikenal sejak zaman Yunani kuno untuk menginterpretasi manuskrip, naskah dan lain sebagainya). Berbeda dengan apa yang diungkapkan oleh dosen saya dulu, yang cenderung bermain aman, artikel yang saya baca ini terkesan cukup berani; berani mengatakan bahwa metode hermeneutika pantas digunakan oleh umat Islam untuk menafsirkan al-Qur’an. Walaupun metode hermeneutika tidak berkaitan dengan ontologi-metafisika [1], tetapi –hipotesis saya- penerapan metode ini akan menyinggung keabsahan suatu agama.

Membuka catatan-catatan lama, saya menemukan tiga teori berkenaan dengan metode ini.

  1. Teori Schleirmacher, yaitu metode penafsiran sesuai dengan pemahaman penulis. Tujuannya, agar tidak terjadi perbedaan penafsiran dan lebih mengakuratkan penafsiran. Konsekuensi logis yang muncul (menurut dia) adalah naskah tersebut tidak lagi relevan untuk masa sekarang.
  2. Teori Paul Ricaeur, yaitu metode penafsiran sesuai dengan pemahaman pembaca. Hal yang difokuskan dalam teori ini adalah pembaca, artinya pembaca dibolehkan menafsirkan secara bebas. Konsekuensi logis: memungkinkan (dan memang mungkin) adanya multitafsir.
  3. Teori Hans George Gadamer: Kombinasi antara dua teori di atas. Pembaca tidak bisa sembarangan menafsirkan naskah dan penulis juga tidak bisa memaksakan idenya.

So, what’s the problem? Sebagaimana yang telah saya ungkapkan di atas, permasalahannya akan kentara ketika metode ini diterapkan pada sebuah kitab suci. For your information, membicarakan metode hermeneutika tidak akan bisa lepas dari sejarah Alkitab (Injil) dan seorang tokoh yang bernama Marthin Luther. Siapakah dia? Dialah orang yang menganggap bahwa Injil tidak relevan lagi untuk masa ini. Kemudian, berdasarkan kesimpulannya itu, dia menginterpretasi kembali kitab tersebut agar relevan. Dialah tokoh yang melahirkan agama Kristen Protestan.

Itulah akibat dari metode hermeneutika. Penerapan metode ini (pada kitab suci) hanya akan melahirkan ‘agama baru’. Itu kan hanya berlaku untuk teori 2 dan 3? Bagaimana dengan teori yang pertama (Teori Schleirmacher)? Sama saja! Walaupun dalam teori tersebut dikatakan bahwa penafsiran harus sesuai dengan makna aslinya, tetapi tetap saja mereka beranggapan bahwa ‘naskah’ tersebut tidak bisa diaplikasikan untuk masa sekarang.

Mungkin sebagian pembaca menganggap saya terlalu berlebihan dalam berpendapat dan bersikap. Tidak. Metode ini sudah diaplikasikan oleh tokoh-tokoh Islam liberal, baik di Indonesia ataupun dunia, salah satunya bernama Nazir Hamid. Dia menginterpretasikan al-Qur’an dengan metode hermeneutika. Tahu apa pendapat dia? Dia berpandangan bahwa Islam dan al-Qur’an adalah hasil dari suatu budaya, dan dia menempatkan Nabi kita yang mulia, Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam– tak lebih dari sekedar pengarangnya. Na’udzubillah, Semoga Allah menjaga hati-hati kita dari penyimpangan agama.

Ya, seperti itulah dunia filsafat. Sebuah dunia yang di dalamnya hanya diberlakukan hukum rasionalitas. Sebuah metode berpikir yang konsekuensi ekstrimnya hanya akan melahirkan sikap antiagama dan antituhan. Minimalnya, mereka (pengagum filsafat) akan memposisikan akal/rasio mereka sejajar dengan wahyu, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah ash-Shahihah atau menafsirkan dan mentakwilkan dua Kitab yang mulia ini sesuai dengan rasio (baca: nafsu) mereka sendiri. ‘Iyadzubillah.

Sungguh indah apa yang dikatakan oleh Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu-, “Hati-hati kalian dari ashhaabur ra`yi (pengagum akal). Sesungguhnya mereka adalah musuh-musuh as-Sunnah. Mereka tidak mampu/lemah untuk menghafal hadits-hadits, sehingga mereka berkata dengan akal. Sesatlah mereka dan menyesatkan.” (Ushulus Sunnah karya Ibnu Abi Zamanin hal. 25 dan Al-Lalikai dalam Syarh Ushululil I’tiqad, 1/123)

Satu hal lagi, al-Qur’an dan as-Sunnah berbeda dengan tulisan-tulisan lain. Kita tidak perlu bingung untuk memahami sumber rujukan yang mulia ini. Kita sepakati bahwa yang paling memahami dan mengerti tentang agama ini adalah murid-murid langsung Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam-, yaitu para sahabat –radhiallahu ‘anhum-. Maka, hendaknya dalam memahami nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah kita merujuk kepada mereka, para Salaful’Ummah.

al-Imam al-Barbahari –rahimahullah– berkata, “Agama ini datang dari Allah –tabaraka wa ta`ala-, bukan dari akal dan pendapat manusia. Ilmunya dari sisi Allah melalui Rasul-Nya, maka janganlah engkau mengikuti agama dengan hawa nafsumu yang menyebabkanmu terpisah dari agama hingga engkau keluar darinya. Tidak ada dalil bagimu untuk menolak syariat dengan akal atau hawa nafsu karena Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah menjelaskan agama ini kepada para shahabat. Para shahabat adalah al-Jama’ah dan as-Sawad al-A’zham. As-Sawad al-A’zham adalah kebenaran dan orang yang berpegang dengannya.” (Syarhus Sunnah, hal. 66)

Wallahu ta’ala a’lam bishshowab. Nas-alullaha lana wa lakum at-taufiq wal hidayah.

24 Oktober 2011

Footnote:

[1] Ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang sesuatu yang ‘ada’, dan ontologi-metafisika adalah ilmu yang mempelajari tentang ‘suatu yang menjadi sebab dari sesuatu yang ada’. Confused? Relax. What is mind? No matter. What is matter? Never mind!😀

3 pemikiran pada “Hermeneutika?

  1. saya kurang sependapat jika filsafat dikatakan melulu rasionalis dan efeknya anti agama. Filsafat tanpa agama adalah buta, dan Agama tanpa filsafat adalah lumpuh. dalam al-Quran banyak ayat yang menyuruh kita untuk berfikir (tentu bukan yang rasional saja). Dunia Islam sangat berkembang ketika banyak filsuf Islam (sebut saja Ibnu Sina, Al Ghozali, Al- Kindi, dan banyak lagi) dan mundur ketika orang Islam mengangap berfilsafat itu haram (ada yang bilang pintu Ijtihat telah ditutup), padahal salah satu dasar hukum Islam selain al-Quran dan Sunnah adalah Ijtihat Ulama. Ijtihat adalah proses berfikir filsafati.
    banyak teman saya yang belajar filsafat, mereka lebih religius lebih mengenal agamanya, bukan sekedar syariat, tapi mereka bisa menemukan hakikat agamanya, dan semoga sampai menemukan makrifatullah (mengenal siapa Tuhannya)karena Islam mereka bukan warisan ortu, tapi hasil mencari. bukan sekedar menjunjung tinggi syariat, berteriak kafir kepada yang berbeda syariatnya (meskipun sesama muslim), tetapi tidak mengenal siapa Tuhannya.
    so, jangan memvonis filsafat itu musuh agama…

    Wallahu a’lam bissawab…

    1. Bismillah.
      Saya sudah menyampaikan perkataan salah seorang sahabat dan ulama berkaitan dengan ilmu ra’yi (filsafat). Terserah Anda bagaimana menanggapinya. Adapun perkataan ini, “Filsafat tanpa agama adalah buta, dan Agama tanpa filsafat adalah lumpuh”, entah, saya tidak tahu dari mana asal-usulnya.

      Dunia Islam sangat berkembang ketika banyak filsuf Islam

      Apa definisi ‘berkembang’ yang Anda maksud? bukankah Nabi mengatakan bahwa, “khairun naasi qarni, tsummal ladzii yaluunahum, tsummal ladzii yaluunahum” (sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya) HR. Bukhari.
      Apakah pada zaman terbaik tersebut dikenal ilmu filsafat?
      atau definisi “berkembang” menurut Anda adalah tentang perkara dunia? kalau memang benar hal itu, maka saya menyerah, dialog ini tidak akan berujung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s