Cinta Adalah Kecenderungan Hati, Begitu Pula Pekerjaan


Cinta adalah kecenderungan hati, itulah kalimat ringkas yang diutarakan oleh Abu ‘Abdillâh Muhammad bin Bakr, atau yang biasa kita kenal dengan nama IbnulQayyim al-Jauziyyah –rahimahullâh-. Sebuah pendefinisian ringkas tentang makna cinta, tetapi mempunyai arti yang mendalam. Namun, bukan kalimat itu yang akan dibahas dalam celoteh ini. Bukan tentang cinta, melainkan tentang tiga kata terakhir yang terdapat pada judul di atas: begitu pula pekerjaan. Maksudnya, pekerjaan juga merupakan kecenderungan hati yang harus dilakoni dengan rasa cinta.

Sebelum saya mulai bercerita, saya hanya ingin menekankan bahwa tulisan ini hanyalah wujud dari idealisme saya. Saya tidak bermaksud memaksakan opini-opini saya ini, karena saya tahu setiap orang mempunyai idealisme yang berbeda yang disokong oleh faktor-faktor yang berbeda pula. Bahkan orang yang terbiasa dengan gaya hidup pragmatis-realistis, bagi saya juga termasuk idealisme tersendiri, ya idealisme menurut dia.

Pekerjaan, sebuah hal (atau permasalahan) yang cukup sensitif bagi sebagian fresh graduate, tak terkecuali saya. Entah mengapa, sepertinya pekerjaan memang menjadi tujuan utama dari sebuah pendidikan yang ditempuh selama bertahun-tahun. Saya tidak bermaksud menyalahkan itu, karena kita memang membutuhkan pekerjaan untuk menopang hidup (ba’dallâh). Namun saya merasa aneh jika ada sebagian orang yang benar-benar memutlakkan kaidah tersebut (mungkin kali lain saya akan membahasnya atau barangkali ada dari para pembaca yang ingin mengutarakan pendapat berkaitan dengan hal ini?). Oke, lagi-lagi saya tidak fokus dalam menulis, terutama di awal. (-_-“)

Sebagai lulusan yang masih segar, tentunya kita ingin segera mendapat pekerjaan, apapun pekerjaanya. Namun saya selalu menekankan kepada diri saya pribadi untuk bekerja di bidang saya sukai. Walaupun untuk mendapatkan pekerjaan tersebut saya harus menunggu selang beberapa bulan. Cukup lama, memang, tetapi sebagai seorang muslim saya percaya kepada taqdir Allâh ‘azza wa jalla. Satu hal lagi yang perlu diingat, kesabaran akan selalu berbuah manis, insyaAllâh.

فإنّ مع العسر يسرا , إنّ مع العسر يسرا

“Maka, setelah kesulitan pasti ada kemudahan dan setelah kesulitan (yang sama) pasti ada kemudahan (yang lain).” (al-Insyirah, 5-6)

Ada tiga hal yang saya jadikan patokan sebelum menjadi jobhunter atau jobseeker (terserah kalian mau menggunakan istilah apa), yaitu kelemahan, kelebihan, dan cinta.

  1. Kelemahan. Semua orang yang mengenal saya pasti tahu, bahwa saya lemah dalam komunikasi lisan. Saya sangat menyadari itu. Maka, saya menghindar atau tidak mau berkecimpung di dalam pekerjaan yang menjadikan kemampuan verbal sebagai fokus utama.
  2. Kekuatan. Alhamdulillâh, kekurangan saya dalam kemampuan verbal bisa ditutupi dengan kemampuan saya dalam hal tulis-menulis. Tidak terlalu spesial memang, tetapi setidaknya kemampuan menulis saya jauh lebih baik daripada kemampuan oral saya (beberapa karya tulis saya telah membuktikan hal itu, hehe). Atas dasar dua hal itu (kelemahan dan kekuatan), otak saya menyeruakkan sebuah ide untuk bekerja di salah satu dari tiga bidang: journalism, research, and publishing. Namun, ketiganya masih sebatas ide karena masih ada patokan yang lain:
  3. Cinta. Hal inilah yang menjadi pembahasan utama dalam tulisan ini. Hal ini pula yang menjadikan saya mencoret satu dari tiga bidang yang ingin saya geluti, yaitu jurnalistik. Saya hanya merasa bahwa saya tidak akan mencintai bidang tersebut, karena pasti akan banyak hal dalam bidang ini yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang saya anut. Yeah,  love is not only about passion, but also about purpose and values.

Kemudian, pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana cara menemukan cinta? Pertama, tentukan tujuan. Apa tujuan saya dalam bekerja? Tentu saja demi kebahagiaan. Ingat, ke-ba-ha-gi-a-an, bukan banyaknya harta. Menjadikan banyaknya harta sebagai tujuan bekerja hanya akan menjadikan kita sebagai orang yang tidak pernah merasa cukup, selalu saja mengejar materi. Alih-alih memperoleh kebahagiaan, kita hanya akan menjadi budak dunia. Bukankah Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda,

ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس

“Bukanlah kekayaan itu dari banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah rasa cukup yang ada di dalam hati.” (HR. Al-Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051 dari Abu Hurairah)

Kebahagiaan yang saya maksud di sini tak hanya kebahagiaan dunia, tetapi juga kebahagiaan di akhirat. Ini juga berkaitan dengan faktor cinta selanjutnya, yaitu values. Jadikan niat dan kegiatan kita dalam bekerja sebagai wujud peribadahan kita kepada Allâh ‘azza wa jalla. Artinya, jangan sampai apa yang kita kerjakan bertentangan dengan aturan-aturan yang telah diberikan-Nya. Jangan sampai kita menganut paham machiavelisme, menghalalkan segala cara demi mendapatkan tujuan. Jangan sampai prinsip-prinsip yang kita anut, terkikis satu demi satu karena tuntutan pekerjaan. Keep your idealism!

Terakhir adalah passion. Passion tersebut tidak akan lahir begitu saja, tetapi melalui sebuah proses. Yaitu dengan berani mencoba hal-hal baru. Saya, menemukan passion saya di dunia publishing (yap, saya memilih publishing) karena pengalaman saya yang pernah diajak oleh salah seorang dosen saya untuk menjadi asistennya (lebih tepatnya, asisten leksikograf).  Tugas saya saat itu, tidak hanya memasukkan lema ke dalam kamus, tetapi juga mengedit, me-layout, dan juga mendesain cover. Bahkan saya diminta untuk mengurus nomer ISBN di Perpustakaan Nasional dan juga diikutsertakan dalam Pelatihan dan Pendampingan Penulisan Buku yang diadakan oleh DRPM UI. Multi tasking, but I enjoy with it!  

Dengan cinta, sebuah pekerjaan tidak akan terasa membosankan. Kita bisa menikmati pekerjaaan tersebut. Namun, satu hal yang perlu diingat, cinta itu ada pada aktivitas kerja, bukan pada perusahaan. Loyalitas memang diperlukan dalam dunia kerja, tapi integritas jauh lebih penting.

Enda, do your best, be your best, & enjoy the process!

Jakarta, 22 September 2011

Ditulis di sela-sela aktivitas kerja😀

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s