Lelaki Tua


Lelaki tua, berdiri lemah di hadapanku. Gurat di wajahnya membuktikan bahwa usianya telah senja. Semburat-semburat keletihan nampak jelas di wajahnya, seakan beban berat pernah hinggap di pundaknya. Rona matanya telah memudar. Ya, penglihatannya telah pudar termakan oleh waktu. Operasi katarak yang pernah ”dicoba” dokter pada mata kirinya gagal, setidaknya itu menurutku. Alih-alih sembuh, mata kanannya pun merasa iri, tak mau kalah mengikuti jejak si kiri. Berjalannya pun telah gontai. Dia harus didampingi ketika berjalan, walaupun sekedar menuju tempat tidur. Ingatannya? Tak usah kau tanya kawan. Mengingat nama anak-anaknya pun ia tak mampu. Di benaknya hanya ada sebuah cerita masa lalu. Mungkin masa lalu yang teramat bahagia, menurutnya. Ucapnya sekarang hanya leloteh sederhana tak bermakna. Sekali lagi, ini hanya menurutku. Karena mungkin baginya, leloteh tak bermakna itu justru mempunyai makna yang dalam. Hanya dia dan Allah yang tahu.

Tak ada wibawa, sama sekali tak ada. Orang-orang mulai meremehkannya. Termasuk aku. Seperti yang telah kubilang sebelumnya, ucapannya nyaris tak bermakna. Yang ada hanya gurauan dan igauan kecil. Cukup lucu. Cukup lucu untuk membuat aku dan dia semakin akrab. Aku semakin sering bercanda dengannya, berlebihan malah, terkadang. Suatu saat aku akan menyesali hal ini.

Ketika orang-orang menganggap dia hanya seonggok lelaki tua, tak berwibawa, sesungguhnya mereka lupa siapa dia. Lalu, siapakah dia sebenarnya? Mari ku jelaskan.

Dulu, dia adalah lelaki jenius. Kejeniusannya melebihi ekspektasi orang-orang di sekitarnya. Dia benar-benar bagai mutiara di jaman penjajahan Belanda. Guru-gurunya pun sering dibuat mabuk oleh pertanyaan-pertanyaan cerdas yang dia lontarkan, nyaris semuanya tak bisa dijawab. Pada akhirnya, dia sendirilah yang menjawabnya. Kau tau, Tawaran belajar ke Belanda pernah didapatnya. Namun ia menolak, karena rasa cintanya pada kedua orangtua. Dia tak ingin meninggalkan kedua orangtuanya. Tapi perjalanan pendidikannya tak berhenti di situ. Pada akhirnya dia berhasil memperoleh ijazah dari salah satu universitas di Perth, Australia, tanpa meninggalkan ibu, ayah, dan sanak familinya. Bagaimana bisa? Dia belajar dengan bantuan jasa pos. Ah, andai saja dulu sudah ada fasilitas yang diberi nama internet. Physical Engineering, itulah bidang yang ia geluti. Walaupun cuma setara D3, tapi itu cukup hebat di masanya. Benda-benda dan rumus-rumus aneh pun berhasil ia temukan, sayang semuanya hanya menjadi koleksi pribadi yang ikut mengkerut mengikuti masa tuanya.

Dulu, dia adalah seseorang yang menjunjung tinggi sebuah integritas. Benar ia katakan benar, salah ia katakan salah. Tak ada manusia yang ia takuti. Idealisme itu yang membuatnya selalu bertentangan dengan partai penguasa yang berwarna kuning, kau tahu kan? Tentu, kau pasti tahu maksudku. Adalah hijau warna yang ia pilih. Ya, Islam memang menjadi pokok integritas dirinya. Itulah yang membuatnya rela mengabdi selama lebih dari 30 tahun di sekolah Islam swasta di kotanya. Menjadi guru matematika dan fisika itulah profesi yang ia tekuni sepanjang hidupnya. Ia tolak mentah-mentah tawaran pemerintah daerah saat itu untuk diangkat menjadi guru negeri, demi sebuah integritas yang ia junjung. Integritas.

Tak hanya itu, dulu perilakunya sangat disegani kolega-koleganya. Ia tak pernah kenal kata meminjam, apalagi meminta. Hutang adalah sesuatu yang teramat tabu baginya. Walaupun sedikit, jerih payah sendiri lebih mulia, ungkapnya. Selain itu -seperti yang telah kuungkapkan sebelumnya- kebenaran adalah harga mutlak baginya. Tak jarang, ia berkonfrontasi dengan beberapa kyai di kampungnya. Ritual-ritual syirik, bid’ah ataupun khurafat selalu dijauhinya. Semuanya ia lakukan demi sebuah komitmen, komitmen terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah. Sayang, di masa tuanya komitmen itu sedikit ternoda, karena beban yang ia terima. Bukan karena sebab pribadi, tapi karena ketergeliciran salah satu orang yang disayangi.

***

Lebih dari 3 tahun yang lalu, seorang ibu menelepon anaknya yang baru dua bulan merantau untuk menuntut ilmu di sebuah universitas negeri ternama di kota Depok. Diiringi tangis, dengan lirih ia berkata, ”Nak, cepatlah pulang, penting!”. Dengan sigap dibarengi rasa cemas campur bingung, si anak tersebut langsung menuju stasiun kereta, Pasar Senen. Stasiun yang belum pernah diinjak sama sekali oleh kedua kakinya. Dibenaknya hanya ada dua kata, pulang dan penting. Tanpa tahu rahasia apa yang tersembunyi. Kelak, kata-kata yang senyawa dengan kalimat tadi (menyebutkan kata penting tanpa merinci masalah) menjadi rangkaian kata yang paling ia benci sepanjang hidupnya.

Lemas lunglai, sedih, itulah yang ia rasa. lelaki tua di hadapannya yang merupakan ayah kandungnya kini tak lagi berdaya. Pusara, sekarang hanya itu tempat jasadnya. Sebelumnya, dia telah dirawat selama satu pekan akibat stroke yang ia derita. Tak ada satupun keluarga yang berani mengabarkan kepada si anak tentang sakit yang diderita ayahnya. Alasannya sederhana, sangat sederhana. Yaitu agar konsentrasi belajar tak terganggu. Sederhana bukan?

Sedih, namun tak ada tangis. Tidak ada satu tetes pun air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia ingat, ingat sebuah wasiat terakhir sang Ayah ketika mengucap pamit untuk berangkat melanglangi Jakarta. Beda dengan sebelumnya, kali ini bukan canda. Dengan lembut sang Ayah berujar, ”Teruslah belajar….!”.

Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu…..

1 Ramadhan 1431 H

Ku tulis diiringi sebuah kerinduan yang mendalam

Satu pemikiran pada “Lelaki Tua

  1. sedih bgt……
    tdinya buka blog fa’iq (yg tnyta baru) tertrik dwnload al-wafi translator….
    ga sengaja ngebuka artikel haru biru ini…

    tahukah fa’iq, bhw semua org yg prnah kenal “lelaki tua” itu, akn sangat menyanjungnya…kisah yg diungkapkkn cerita ini sangat mirip cerita dari para murid hasil didikan beliau…bahkan ketika para murid itu telah dewasa dan berkeluarga sekalipun, “lelaki tua” itu masih tersimpan rapat dalam memori mereka…setiap kebijaksanaan, kecerdasan, dan jasa beliau…..
    bahkan hanya dengan sebuah cerita, tanpa bertemu, setiap org dapat merasakan betapa hebatnya beliau…
    sungguh, betapa bangga putra tsb memiliki ayah “lelaki tua” yang sangat hebat…
    speti kta pepatah,buah jatuh takkan jauh dari pohonnya…
    sang putra semestinya menyadari disetiap rindunya, bahwa pepatah ini bukan sekedar kata indah, tetapi bisa menjadi benar adanya…

    semoga Allah menerima segala amal baik sang lelaki tua, mengampuni setiap dosanya, dan melapangkan tempatnya…
    aamiin…

    Ahmad Fa’iq: Aamiin… Barakallahu fiikum!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s