Prove Me Wrong, Sir!


Hari ini, 20 Oktober 2014, bangsa kita melantik presiden baru. Rakyat gegap gempita mengadakan pesta. Selama beberapa masa pergantian kepemimpinan negara yang pernah saya alami, pelantikan inilah yang paling meriah. Bukan sekadar dari sisi pesta rakyat yang diadakan, tetapi juga dari pro dan kontra yang dihadirkan sejak masa pemilihan. Bahkan di detik-detik pelantikan pun masih banyak suara-suara negatif didengungkan.

Persoalan asing aseng (yang konon tak sekadar persoalan demarkasi) dan agama menjadi isu yang paling sering dibahas – yang menurut saya sebagian besarnya hanyalah pepesan kosong. Saya menyebutnya pepesan kosong bukan berarti saya tidak peduli dengan isu tersebut, tetapi lebih karena isu-isu tersebut dilontarkan oleh mulut-mulut kotor para politikus. Sekadar isu untuk mencari kawan ataupun menjegal lawan. Sama saja, kubu KMP ataupun KIH. Saya tak suka keduanya. Baca lebih lanjut

Jerat-Jerat Jaring-Jaring Sosial


Kita hidup di masa ketika arus informasi mengucur deras tanpa kendali, bahkan kita tenggelam dan terhanyut di dalamnya. Untuk mengetahui kabar kawan lama di negeri sana, kita tak perlu repot-repot bertanya, apalagi menemuinya. Kabarnya secara eksklusif nampang di gadget-gadget kita. Bukan cuma kabar baik, kabar putus cintanya pun kita bisa mengetahuinya. Kita tak perlu berlangganan surat kabar untuk mengetahui peristiwa yang terjadi di pelbagai penjuru dunia. Kabarnya secara eksklusif nampang di gadget-gadget kita. Tanpa perlu mengetahui validitas kebenarannya. Kini, batas antara kebenaran dan kesalahan terlihat sirna. Mata manusia tak lagi jelas melihat kebenaran seterang matahari di angkasa. Ya, jaring-jaring (atau jejaring) sosial memang menyuguhkan dimensi baru dalam perikehidupan manusia.

Namanya juga jaring-jaring, selain sifatnya menghubungkan antargaris (seperti rajutan benang), ia juga menjerat. Fungsinya jelas, sebagai perangkap ataupun jebakan. Betapa jenius orang yang mengindonesiakan kata social network menjadi jaring-jaring sosial. Ia pasti berusaha keras membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk menemukan padanannya. Ia juga pasti sudah mengetahui efek social network bagi manusia. Ia pasti tahu bahwa jika seseorang sekali saja masuk ke jaring-jaring sosial, maka ia akan sulit untuk lepas dari jeratannya. Bak terperangkap dalam jaring laba-laba. Lengket. Lepas dari satu benang, masih ada benang-benang lain yang menjerat. Bahkan, kekuatan jaring laba-laba raksasa, Shelob dan induknya (Ungoliant) pun tak ada apa-apanya.

Deskripsi yang berlebihan? Oke, tidak perlu jenius untuk mengetahui bahwa net berarti “jaring”. Namun, yang jelas, penggunaan istilah tersebut sangatlah tepat.

Baca lebih lanjut

#NgomongSamaKaca


Seringkali kita tahu apa dan mana jalan kebenaran,
hanya saja kita merasa berat untuk menapakinya.

Seringkali, kita bermaksiat dalam sepi,
lupa bahwa ada Rabb yang Maha Melihat dan 2 malaikat yang mencatat.

Seringkali, kita sibuk dengan aib dan kesalahan saudara-saudara kita,
tetapi lupa dengan aib dan kesalahan diri yang lebih melegamkan hati.

Seringkali, kita berharap kesempurnaan saat mencari calon pasangan hidup,
tetapi lupa kadar diri sendiri.

Seringkali kita berkata, “SUATU SAAT aku akan bertaubat”.
lupa bahwa mereka yang sekarang berada di kubur juga pernah mengatakannya.

Belum, (se)belum terlambat, nafas masih di kerongkongan.
Mari benahi diri gapai ampunan Ilahi.

أَللَّهُمَّ  أَرِنَا الحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا  اتِّبَاعَهْ


وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِـنَابَه


“Wahai Allah, tunjukkanlah kami yang benar itu sebagai kebenaran,dan karuniakanlah kami kekuatan untuk mengikutinya.
Tunjukkanlah kami yang batil itu sebagai kebatilan dan karuniakanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.”

Jakarta, Ramadhan 1432

 

Bahasa Indonesia: Impi dan Mimpi


Semalam, dalam suatu percakapan tertulis, saya memunculkan kata impi(an) dan mimpi secara bersamaan, tanpa sadar apa perbedaan  antara keduanya. As usual, setelah percakapan selesai, saya selalu membaca ulang riwayat percakapan. Saat itulah saya menemukan kejanggalan dari dua kata tersebut. Hipotesis pertama saya, dua kata tersebut adalah kata yang sama, tetapi salah satunya pasti tidak baku.

Pagi ini, di kantor, saya membuka KBBI. Ternyata KBBI menjadikan impi dan mimpi sebagai dua lema yang berbeda makna (walaupun agak mirip). Nomina impi, yang derivasi verbanya adalah mengimpikan, mempunyai arti mengidamkan atau mengharapkan dengan sangat. Adapun nomina mimpi, mengimpikan, bermakna mencita-citakan sesuatu yang susah (bahkan mustahil) untuk digapai. Yap, perbedaannya adalah perwujudan nyatanya. Mimpi lebih bersifat angan-angan atau khayalan (seperti mimpi mempunyai sayap dan bisa terbang), sedangkan impi adalah keinginan yang masih wajar untuk diraih.

Jadi, kalau konteksnya adalah Aku dan Kamu, maka kata yang tepat untuk melengkapinya adalah mengimpikan, bukan memimpikan.😀

Dekstop, 8 Februari 2013

Sekadar tulisan ringkas pengingat pelajaran bahasa dan pengingat impian

Copycat is More Dangerous than Tomcat!


“Plagiaris adalah seorang pencuri, sekaligus pendusta.” -Sudigdo Sastroasmoro-

29/01/2013, saya googling untuk mencari referensi beberapa hal berkaitan dengan pekerjaan saya. Google –si mbah yang konon tahu banyak hal- pun memberikan daftar rujukan, salah satunya adalah web Lontar UI. Saya membukanya. Selesai membaca apa yang ingin saya tahu, dan karena sudah terlanjur ada di laman Lontar UI, saya iseng untuk mencari beberapa skripsi karya teman-teman saya. Khususnya teman-teman saya yang telah menulis skripsi berkaitan dengan cabang ilmu linguistik.

Gotcha! Saya menemukan satu skripsi milik teman seangkatan saya saat masih kuliah. Kemudian saya langsung mengunduh. Saya buka dan baca halaman demi halaman. Tetiba saya merasakan kegetiran di bibir. Saya mulai merasakan keanehan ketika melihat jenis font yang tidak konsisten di skripsi tersebut. Ada yang menggunakan font Times New Roman, ada juga yang menggunakan font AGaramond (font favorit saya dan kawan karib saya).

Baca lebih lanjut