Benarkah PANCASILA Produk Asli Bangsa Indonesia?


Kita semua tahu apa itu Pancasila (walaupun mungkin tidak tahu kandungan maknanya dan kadang lupa bunyi sila-silanya). Rumusan-rumusan makna dan retorika Pancasila disusun oleh Bapak-bapak Pendiri Bangsa . Sejak SD (bahkan mungkin TK) kita sudah diberi pengertian bahwa Pancasila adalah falsafah asli Indonesia, yang merupakan cerminan dari sikap bangsa Indonesia. Benarkah? Mari sedikit kita telaah…

  • Sila 1: Ketuhanan yang Maha Esa

Bagaimana dengan animisme dan dinamisme di Indonesia yang sudah sangat mengakar dan mendarah daging, baik di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Papua dll? Mungkin ada yang berkata, “itu kan dahulu, sebelum agama-agama datang ke Indonesia”. Terlalu naïf jika kita mengatakan animisme dan dinamisme hanyalah bagian sejarah bangsa kita di masa lampau. Di era modern seperti sekarang, bahkan dengan penduduk yang mayoritas Islam, aqidah-aqidah sesat seperti itu masih sangat banyak. Kenal Kyai Slamet (Kebo yang dianggap wali oleh orang-orang Islam Jawa)? Atau Mbah Marijan yang sekarang menjadi bintang iklan, populer karena berhasil ‘menaklukkan’ Gunung Merapi. Ingatkah juga kalian, tentang makam di Aceh yang di agungkan sebelum terjadinya Tsunami (Allahu Akbar, segala puji bagi Allah yang telah meluluh-lantakkan tempat kesyirikan tersebut). Sekarang kita tengok tempat sekeliling kita, bahkan diri kita sendiri, sudahkah kita bersih dari budaya animisme dan dinamisme (baca: kesyirikan)? Berapa banyak pohon-pohon di sekeliling kita yang di kramatkan, berapa banyak dukun-dukun yang ‘praktek’ di daerah kita, dan berapa banyak makam-makam yang diagungkan dan disembah-sembah? Bahkan televisi pun sekarang sudah menjadi media dari budaya sesat ini. Banyak sekali sinetron, film dan reality show yang menayangkan adegan-adegan mistis, belum lagi ramalan-ramalan, baik yang produk dukun impor seperti ramalan bintang, maupun produk dukun lokal sekelas Mama Loreng (saya gak tau dan gak mau tahu jika tulisan nama ini salah), Ki Joko (bener-bener) Bodo, Ki (memang) Gendeng dan lain-lain. Wal ‘iyadzu billah, nasalullahattaufiq wal hidayah.

  • Sila 2: Kemanusiaan yang adil dan beradab

Kali ini, masalah yang akan kita soroti adalah humanisme alias kemanusiaan. Disini saya juga tidak tahu, apa yang dijadikan sebagai parameter untuk mengukur ‘rasa’ ini. Kita lihat contoh kecilnya, kenapa pengendara kendaraan bermotor jarang sekali mau memberikan jalan untuk pejalan kaki yang mau menyeberang walaupun sudah di zebracross. Atau betapa susahnya menyuruh seseorang untuk mengantri. ‘Perbuatan seperti itu kan tergantung pribadi seseorang?’ Tidak, sifat naturalis (tanpa pendidikan) kita lebih mengarah ke tindakan seperti itu, kita lebih suka memaksakan hak-hak kita dari pada memberikan atau setidaknya menghormati hak orang lain. Apakah itu yang namanya kemanusiaan? Ingat bung, kemanusiaan berarti memenuhi hak-hak sesama manusia . Sekarang kita liat contoh ekstremnya, pernah mendengar pemenggalan kepala suku Dayak? Atau tentang budaya carok ala Madura, Ngaben di Bali dll. Bukankah hal tersebut sama sekali tidak manusiawi! So, dari mana kita bisa mengatakan bahwa kemanusiaan yang adil dan beradab adalah sifat dasar mayoritas bangsa Indonesia. (berarti sifat dasar bangsa Indonesia semuanya jelek? tidakjuga, ini sekedar analisis tentang asal-usul nilai-nilai Pancasila. Dalam artikel ini penulis juga tidak bermaksud melecehkan suku-suku atau men-judgement bangsa Indonesia secara negatif).

Sepertinya cukup dengan dua sila (artikelnya juga dah kepanjangan, penulis juga dah ngantuk), setidaknya hal ini sudah bisa membuktikkan bahwa sebagian nilai-nilai yang terdapat pada Pancasila bukanlah produk asli dari nilai-nilai bangsa Indonesia. Pancasila merupakan salah satu produk Barat, anak dari Renaissance dan Aufklarung, cucu dari pemikiran Plato dan rekan sejawatnya ratusan tahun yang lalu. Tujuan yang diinginkan oleh para founding fathers (Soekarno dkk) dalam pembuatan Pancasila adalah pembentukan masyarakat baru yang mempunyai satu kesamaan, dan Pancasila inilah yang di ‘paksa’ untuk menjadi titik kesamaan tersebut.

Agree or disagree? Like or dislike? Itu terserah kalian!! Saya hanya ingin mengeluarkan pikiran yang ada di kepala lewat tulisan. Sebagian isi dalam artikel ini saya dapat  saat belajar (baca: dogmatisasi) mata kuliah Sejarah Pemikiran Moderen (lebih tepat disebut Sejarah Filsafat Moderen), dengan banyak penyaringan pemikiran (dari hal-hal yang berbau sekuler dan rasionalis).
Wabillahittaufiq wal hidayah

15 thoughts on “Benarkah PANCASILA Produk Asli Bangsa Indonesia?

  1. anak2 TK n SD sekarang pada hapal sila2 pancasila gak yah?? :(

    ttg artikel di atas,,hm, saya rasa pancasila adalah produk asli bangsa indonesia dehh, karena diusung/diajukan oleh salah seorang anak bangsa, yg ketika itu indonesia mmng butuh sebuah konsep , sebuah ideologi yg mmpersatukan bangsa. perihal dapat dari mana falsafahnya, itu murni hak sipengusung ide.

    btw, nice artikel iq..

    http://www.uny.ac.id/akademik/sharefile/files/22052007221144_kirim_artikel.docx

  2. Produk Asli Bangsa Indonesia atau bukan, yang pasti banyak hal yang tak mungkin dapat diwujudkan. Sila – sila dalam Pancasila banyak yang bersifat khayali, multitafsir, dan… tidak punya “sikap”. Temen2 dari IPS pasti lebih tau tentang bagaimana perjalanan Pancasila. Pada zaman Soekarno, Pancasila “bernafaskan” sosialis-komunis, namun di zaman Soeharto (hingga detik saya mengetik komentar ini) Pancasila “bernafas” kapitalis.
    Kapan ya Pancasila akan “bernafas” Islam??? Segera, Insya ALLAH….!!!

    BTW, Tumben peduli masalah ginian? :-)

  3. @kangmasjuqi= sepakat mas (sori kyeh nembe bales comment-e nt), sipengusung ide memang berhak mengambil dari “manapun”. tapi ideol0gi lahir dari sebuah realita/empiris (jarene Aristoteles), terlalu susah jika memaksakan ideologi yang bertentangan dengan pengalaman dasar bangsa “itu” sendiri.

    @fifi=kayaknya seneng banget klo ane nulis artikel ginian, hehehe :)
    #emm, terserahlah dengan apa PANCASILA “bernafas”, ana gak begitu peduli. tapi, gak mungkin dan gak akan mungkin Pancasila bernafaskan Islam, haq dan yang batil gak akan bersatu. Islam ya Islam, beda dengan Pancasila dan gak akan mungkin disatukan. Pancasila adalah Ideologi buatan manusia, sedangkan Islam adalah agama (gak perlu mengatakan Islam adalah sebuah ideologi, cukuplah Islam sebagai AGAMA).
    dan kita (ana pribadi) memang mengharapkan Indonesia menggunakan syariat Islam, tapi apakah saat ini bisa? dengan kondisi masyarakat yang sangat jauh dengan nilai-nilai Islam? sekarang aja yang sedang “berjuang” menegakkan syariat Islam malah menggunakan cara yang bertentangan dengan Islam…..Allahul musta’an

    “Dirikanlah daulah Islam di hatimu (dirimu), niscaya akan tegak daulah Islam di negerimu”

    @dwi= setuju??? gawe blog ra angel ka boz, ngko kapan2 tak ajari wes

  4. “Dirikanlah daulah Islam di hatimu (dirimu), niscaya akan tegak daulah Islam di negerimu”

    Kata-katane sapa ya iq?
    Sungguh langsung menyengat,, hehe. Mengena di hati.

  5. “dan kita (ana pribadi) memang mengharapkan Indonesia menggunakan syariat Islam, tapi apakah saat ini bisa? dengan kondisi masyarakat yang sangat jauh dengan nilai-nilai Islam?”

    Mungkin. Bahkan sangat mungkin! Sudah baca sirah/belum, Akh? Bagaimana keadaan masyarakat Madinah saat Rasulullah “memaksa” mereka menerapkan syariah Islam. Berapa persen dari mereka yang sudah ber-Islam? Berapa banyak kaum Yahudi?

    “Dirikanlah daulah Islam di hatimu (dirimu), niscaya akan tegak daulah Islam di negerimu”

    Maksudnya????

    Sebuah analogi, jika dulu para pejuang “kemerdekaan” Indonesia tidak memproklamasikan “kemerdekaan” Indonesia, mungkinkah sekarang ini Indonesia telah “merdeka” (meski cuma secara fisik)??
    Sadarilah realita!!!1 Jangan cuma mimpi!!!

  6. @ariefudin: naám, bárakalláhu fík

    @Robee: kata2 itu sering di ucapkan oleh Syaikh Al-Albany -rahimahulláh-. dan kalau gak salah, kata-kata itu pertama kali muncul dari kalangan hizby juga, IM atau HT. kata-kata ini memang sangat dalem artinya, sayangnya banyak yang tidak mengamalkan dan memahami kalimat tersebut. Alláhul mustaán

  7. أَقِيْمُوا دَوْلَةَ اْلإِسْلاَمِ فِيْ قُلُوْبِكُمْ تَقُمْ لَكُمْ فِيْ أَرْضِيْكُمْ

    “Tegakkanlah Daulah Islam dalam hati kalian, niscaya akan ditegakkan Daulah Islam di negara kalian.” (lihat At-Tashfiyah wat-Tarbiyah hal. 33, transkrip ceramah Asy-Syaikh Al-Albani)

    Wajib bagi para ahli ilmu untuk mengurusi pendidikan yang baru tumbuh dari kaum muslimin berdasarkan pancaran yang shahih dari Al-Kitab dan As Sunnah. Kita tidak boleh membiarkan manusia tetap berada di atas apa yang mereka warisi berupa berbagai pemahaman keliru, yang sebagiannya dipastikan kebatilannya berdasarkan kesepakatan para imam, dan sebagiannya diperselisihkan, dan masih ada bagian dari pandangan secara ilmiah, ijtihad, dan pendapat, dan sebagian dari ijtihad serta pemikiran tersebut menyelisihi As Sunnah.
    Setelah men-tashfiyah (menjernihkan) perkara-perkara ini dan menjelaskan apa yang harus dijalani serta bertolak darinya, maka kita harus men-tarbiyah (mendidik) benih yang baru tumbuh tersebut di atas ilmu yang benar ini. Pendidikan inilah yang akan membuahkan masyarakat Islam yang murni, dan selanjutnya tegaklah Daulah Islamiyyah.
    Tanpa dua pembukaan ini, yaitu: Ilmu yang benar dan Pendidikan yang benar yang dibangun di atas ilmu yang benar tersebut, mustahil –menurut keyakinanku– untuk bisa ditegakkan hukum Islam atau Daulah Islamiyyah.” (At-Tasfiyah wat-Tarbiyah, Asy-Syaikh Al-Albani hal. 29-31)
    Camkanlah nasehat beliau, semoga kita termasuk hamba yang mendapatkan hidayah

    afwan, klo kepanjangan fi, ane cuma orang bodoh, so daripada ane bedebat dengan kebodohan ane lebih baek ane kutip beberapa artikel dari masyaikh..

    lihat juga: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=290

  8. Ok…
    Wateper yu se lah (waduh, kliatan bgt English-q ancur neh..)
    Lucu juga baca tanggapanmu…
    Lagian, aQ juga ga mau mengulang kesalahanq beberapa tahun lalu..
    Qta sama – sama belajar aja dan saling mendoakan semoga qt selalu ditunjukkan kepada jalan yang benar dan dbri kemampuan untuk menitinya…

    BTW, prasaan komentar pertamaq sama sekali ga nyinggung khilafah deh… koq ditanggapi seperti ini ya?(Sampe jd ada artikel khusus segala di sini) Heran aQ! Sebegitu identikkah aQ dengan ide khilafah sehingga setiap komentarq diarahkan ke sana?
    Tapi ya… GPP sih. Toh, tidak buruk juga diidentikkan dengan perjuangan menegakkan Khilafah… (meski khilafah bukan tujuan utama, ia hanya metode menjaga aqidah ummat!Semoga Anda bisa membedakan antara metode/thariqah dan cara/uslub)

  9. @fifi:
    “Kapan ya Pancasila akan “bernafas” Islam??? Segera, Insya ALLAH….!!!”

    bukankah kalimat ini juga dapat di interpertasikan dengan keinginan anti dalam hal penegakkan daulah ( khilafah) islamiyah? cuma beda retorikanya doang…

    asif, anti sendiri ngrasa identik dengan kelompok/pemikiran tersebut gak…? :)

    robbanaa la tuzigh qulubana ba’da idzhadaitana wahablana min ladunka rahmah, innaka Antal Wahhab

  10. ya ana dan sahabt ana s4 nyinggung masalah PANCASILA.no things perfect (no bodies perfect khan dah umum tuh jadi ana ganti dah…hehehe).tapi seringnya gara2 jargon no perfect dkk ini sebagian besar dari kita jadi nrimo…=(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s